interesting books

Kapal Pukat Hela (trawlers)



                                                Gambar. Desain Kapal Trawl / Pukat Hela
                                                   Sumber: www.macduffshipdesign.com



Pengertian Kapal Perikanan
Kapal didefinisikan sebagai kendaraaan air dengan bentuk dan jenis apapun, yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin, atau ditunda termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air, serta alat apung, bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.
Kapal perikanan adalah kapal, perahu atau alat apung lain yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, latihan perikanan, dan penelitian, atau eksplorasi perikanan. Kapal trawl termasuk ke dalam jenis kapal penangkap ikan yang secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan termasuk menampung, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.

Perkembangan Jenis Trawl dari Tahun ke Tahun


Umumnya kapal-kapal trawl lebih banyak memakai cara Stern trawl, walaupun demikian masih ada kapal trawl yang menggunakan cara Side trawl. (Mallawa, et. al., 2004).
Kapal trawl memiliki berbagai variasi baik ukuran, bentuk serta bahan yang digunakan. Kapal trawl memiliki beragam ukuran, mulai dari 15 GT sampai lebih dari 1000 GT. Kapal trawl ada yang terbuat dari kayu, (umumnya kapal kecil) dan ada juga yang terbuat dari baja (umumnya kapal yang berukuran besar). Konstruksi kapal trawl bervariasi dengan jenis dan pengoperasian alat tangkap, yaitu Stern trawl dan Double rig trawl (Nainggolan Chandra, 2007).

Bagian-bagian Kapal Trawl
Untuk mengoperasikan alat tangkap dengan baik,  Kapal trawl memiliki persyaratan khusus diantaranya:
1.      Memiliki geladak buritan yang luas
2.      Memiliki tenaga mesin utama yang besar
3.   Mampu mengolah gerak dengan baik dan lincah

       1.      Tiang radar
       2.      Ruang kemudi
       3.      Derek jangkar
       4.      Palke tali
       5.      Gudang
       6.      Tangki depan kapal
       7.      Tempat awak kapal
       8.      Palka ikan
       9.      Tangki bahan persediaan
       10.  Ruang Mesin

         Jenis-Jenis Kapal Pukat Hela (Trawl)
Berdasarkan segi operasinya terdapat tiga jenis trawl, diantaranya :
1.      Stern trawl, yaitu trawl yang pada waktu operasinya ditarik pada sisi kapal.
2.      Side trawl, yaitu trawl yang ditarik pada bagian belakang kapal.
3.      Double rig trawl, yaitu trawl yang ditarik melalui dua rigger yang dipasang pada kedua lambung kapal.

Berdasarkan letaknya kapal trawl (hela) dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Kapal Pukat Hela Samping

Jenis Kapal
Bag.
Ciri Fisik Kapal
Letak/Posisi
Orientasi
Kapal pukat hela samping
A
 
Bangunan Atas (super structure)
 
buritan / tengah kapal
 
melintang kapal (tranverse)
 
B
 
gawang/tiang penggantung(gallow/ gantry)
 
sisi buritan dan haluan kapal (port side atau starboard)
melintang kapal (tranverse)
 
C
 
pangsi pukat / penggulung jaring (trawl winch)
 
di depan bangunan atas
 
melintang kapal (tranverse)
 
D
batang angkut (derrick boom)
di belakang bangunan atas
melintang dan memanjang  kapal (tranverse dan longitudinal)



2. Kapal Pukat Hela Belakang



Jenis Kapal
Bag.
Ciri Fisik Kapal
Letak/Posisi
Orientasi
Kapal pukat hela belakang
A
 
bangunan Atas/Rumah Geladak( super structure / deckhouse)
tengah/ haluan kapal
 
melintang kapal(tranverse)
 
B
 
gawang/tiang penggantung (Gallow / Gantry)
 
buritan kapal
 
melintang kapal(tranverse)
 
C
 
pangsi pukat / penggulung jaring (trawl winch)
 
di depan bangunan atas
 
melintang kapal(tranverse)
 
D
 
batang angkut (derrick boom)
 
di depan bangunan atas
 
melintang dan memanjang  kapal ( tranverse dan longitudinal)
E
 
tempat peluncur jaring/rampa  (ramp)
 
buritan kapal
memanjang  kapal


3. Kapal Pukat Hela Ganda

Jenis Kapal
Bag.
Ciri Fisik Kapal
Letak/Posisi
Orientasi
Kapal pukat hela ganda
A
 
bangunan Atas / Rumah Geladak ( super structure / deckhouse) 
haluan/tengah kapal
 
melintang kapal
 
B
 
batang Rentang/batang angkut (Rig/derrick boom)
 
tengah/buritan kapal
 
melintang dan memanjang  kapal (tranverse dan longitudinal)
C
 
 
pangsi pukat / penggulung jaring (trawl winch
dibelakang bangunan atas
 
 
memanjang kapal


Lokasi Operasi Kapal Pukat Hela
Daerah penangkapan atau pengoperasian Kapal Pukat Hela hanya di perairan yang membentang dari perairan Kalimantan Timur bagian utara adalah perairan yang membentang dari perairan Kabupaten Tarakan dengan koordinat 3ยบ 10’ L.U. sampai dengan perairan terluar pulau Sebatik.
Jalur-jalur penangkapan yaitu Jalur I, meliputi perairan di atas 1 (satu) mil sampai dengan 4 (empat) mil yang diukur dari permukaan air pada surut terendah yang hanya diperbolehkan bagi pengoperasian kapal pukat hela dengan ukuran sampai dengan 5 (lima) gross tonnage (GT).
Dan Jalur II, meliputi perairan di atas 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil yang diukur dari permukaan air pada surut terendah yang hanya diperbolehkan bagi pengoperasian kapal pukat hela dengan ukuran sampai dengan 30 (tiga puluh) GT.
          Setiap Kapal Pukat Hela yang wilayah operasinya di jalur I dapat beroperasi di jalur II dan/atau di atas 12 (dua belas) mil, dan kapal pukat hela yang wilayah operasinya di jalur II dapat beroperasi di atas 12 (dua belas) mil. Dan sebaliknya Setiap kapal pukat hela yang wilayah operasinya di jalur II dilarang beroperasi di jalur I.




Semoga bermanfaat !! ^_^ ayo menulis !!

EAFM (Ecosystem Approach to Fisheries Management)

EAFM (Ecosystem Approach to Fisheries Management) atau Pendekatan Ekosistem untuk Pengelolaan Perikanan merupakan pengelolaan perikanan dengan ekosistem dengan memperhatikan samua aspek yaitu: Habitat, Sumber Daya Ikan, Teknologi Penangkapan, Sosial masyarakat, Ekonomi, Kelembagaan, seperti yang terlihat pada gambar berikut.





Konsep dan implementasi EAFM ini di terapkan di empat Negara yaitu Indonesia, Filipina, Tanzania dan Solomon Islands. Kenapa EAFM?
1.      Penurunan Sumber Daya Ikan
2.      Rusaknya habitat perairan, pesisir dan laut
3.      Pemahaman dan kesadaran manusia
Tiga hal tersebuut merupakan tolak ukur untuk diterapannya EAFM di suatu kawasan atau daerah. Dari tahun ke tahun data hasil perikanan tangkap rata-rata diseluruh wilayah di Indonesia mengalami penurunan, hal ini disebabkan oleh rusaknya habitat perairan, pesisir dan laut, kerusakan alam ini bisa saja disebabkan oleh penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, pembuangan limbah yang sembarangan dan lain sebagainya. Dengan demikian pemahaman dan kesadaran kita akan pentingnya menjaga ekosistem sangat dibutuhkan agar ketersediaan stok ikan tetap terjaga.
FAO (2003) mendefinisikan Ecosystem Approach to Fisheries (EAF) sebagai : an ecosystem approach to fisheries strives to balance diverse societal objectives, by taking account of the knowledge and uncertainties about biotic, abiotic and human components of ecosystems and their interactions and applying an integrated approach to fisheries within ecologically meaningful boundaries.
Mengacu pada definisi tersebut, secara sederhana EAF dapat dipahami sebagai sebuah konsep bagaimana menyeimbangkan antara tujuan sosial ekonomi dalam pengelolaan perikanan (kesejahteraan nelayan, keadilan pemanfaatan sumberdaya ikan, dll) dengan tetap mempertimbangkan pengetahuan, informasi dan ketidakpastian tentang komponen biotik, abiotik dan interaksi manusia dalam ekosistem perairan melalui sebuah pengelolaan perikanan yang terpadu, komprehensif dan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam implementasi pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan (EAF) antara lain adalah (1) perikanan harus dikelola pada batas yang memberikan dampak yang dapat ditoleransi oleh ekosistem; (2) interaksi ekologis antar sumberdaya ikan dan ekosistemnya harus dijaga; (3 perangkat pengelolaan sebaiknya compatible untuk semua distribusi sumberdaya ikan; (4) prinsip kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusan pengelolaan perikanan; (5) tata kelola perikanan mencakup kepentingan sistem ekologi dan sistem manusia (FAO, 2003).
Berdasarkan definisi dan prinsip EAFM tersebut di atas, maka implementasi EAFM di Indonesia memerlukan adaptasi struktural maupun fungsional di seluruh tingkat pengelolaan perikanan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini paling tidak menyangkut perubahan kerangka berpikir (mindset) misalnya bahwa otoritas perikanan tidak lagi hanya menjalankan fungsi administratif perikanan (fisheries administrative functions), namun lebih dari itu menjalankan fungsi pengelolaan perikanan atau fisheries management functions (Adrianto et al, 2008)
            Selain itu Implementasi EAFM di dalamnya mencakup: Perencanaan kebijakan yang menitikberatkan pada pernyataan komitmen dan pengambilan keputusan terkait implementasi EAFM (pemangku kepentingan, masyarakat dll), kemudian Perencanaan strategi (Strategic plan) yang merupakan formulasi strategi untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapakan pada rencana kebijakan, dan selanjutnya adalah Rencana pengelolaan (managemen plan) yang menitikberatkan pada rencana aktivitas dan aksi yang lebih detail termasuk didalamnya terkait dengan koordinasi rencana aktivitas stakeholder, rencana pengendalian, pemanfaatan dan penegakan aturan main yang telah ditetapkan di rencana strategis


FeedLangganan Artikel Terbaru BC via Email

» Cek Email Anda untuk konfirmasi berlangganan

Entri Populer