Udah lama nih ga nge-Post di blog kesayangan, hehe... Oke langsung aja, sekarang GPS mau sedikit mengulas mengenai Kontaminasi dan Sterilisasi. Sebelum praktikum, apalagi praktikum yang berhubungan dengan Mikroba contohnya sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa itu Kontaminasi dan apa itu Sterilisasi. Mudah-mudahan bermanfaat dan sangat ditunggu keritik dan saran dari sobat GPS melalui komentarnya, agar GPS bisa lebih baik lagi ^^
Kontaminasi adalah
Kontaminasi adalah terjadinya pencemaran oleh
kontaminan. Komponen yang menjadi penyebab kontaminasi sangat beragam, baik
yang berupa benda mati atau mahluk hidup. Kotoran dan senyawa kimia merupakan
benda mati yang berperan sebagai kontaminan, sedangkan mikroba merupakan
kontaminan berupa mahluk hidup. Kontaminasi sering terjadi dalam berbagai
tahapan kegiatan. Dalam mikrobiologi perairan, kontaminasi umumnya disebabkan
oleh kehadiran mikroba yang tidak diharapkan. Ikan, produk perikanan, pekerja
dan peralatan yang digunakan dapat mengalami kontaminasi oleh mikroba yang
tidak diinginkan kehadirannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
mengatasi terjadinya kontaminan adalah sterilisasi, baik terhadap bahan,
peralatan atau pekerja yang terlibat.
Sterilisasi adalah
Sterilisasi adalah suatu cara untuk mendapatkan suatu kondisi bebas mikroba atau setiap proses yang dilakukan baik secara fisika, kimia, dan mekanik untuk membunuh semua bentuk kehidupan terutama mikroorganisme. Dalam bidang mikrobiologi baik dalam pengerjaan penelitian atau praktikum, keadaan steril merupakan syarat utama berhasil atau tidaknya pekerjaan kita dilaboratorium. Pengetahuan tentang prinsip dasar sterilisasi dan cara pengerjaannya sangat diperlukan untuk praktikan sebelum memulai percobaan dengan bahan yang sebenarnya, aga didapat hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Metoda sterilisasi yang dilakukan diupayakan berlangsung secara cepat dan efisien sesuai dengan prosedur agar dapat meminimalkan atau menghilangkan potensi kontaminasi mikroba seefektif mungkin. Proses sterilisasi yang tidak sempurna dapat menyebabkan munculnya kontaminasi mikroba baik yang berasal dari peralatan tersebut atau kontaminasi mikroba dari lingkungan. Teknik sterilisasi yang digunakan berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung dari jenis material yang digunakan. Pada umumnya proses sterilisasi dapat dilakukan secara kering dan basah sesuai dengan jenis bahan yang akan disterilisasi. Untuk peralatan yang terbuat dari logam dan gelas tahan panas dapat dilakukan sterilisasi kering. Bahan yang tidak tahan panas, seperti media kaldu dan media agar, proses sterilisasinya dilakukan secara basah. Bahan berbentuk cair seperti larutan gula, garam fosfat, ammonium, trace metal, vitamin, dapat disterilisasi menggunakan pemanasan dan penyaringan.
MIRIS!! KISAH SEORANG NENEK MENCURI SINGKONG KARENA KELAPARAN , DAN HAKIM MENANGIS SAAT MENJATUHKAN VONIS
Diruang
sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU
terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa
hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya kelaparan ...
Namun manajer PT X** ( Y ** grup ) tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh
bagi warga lainnya.
Hakim Marzuki menghela nafas., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, 'maafkan
saya', katanya sambil memandang nenek itu,.
Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus
dihukum. saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tidak mampu membayar maka
anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU'.
Nenek itu
tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara hakim Marzuki mencopot topi ,
membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang sejumlah 1jt rupiah
ke dalam topi tersebut dan berkata kepada hadirin...
"Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang
hadir diruang sidang ini sebesar 50rb rupiah, sebab menetap dikota ini, yang
membiarkan seseorg kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan
cucunya....
" Sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi saya ini lalu berikan
semua hasilnya kepada terdakwa ."
Sampai palu diketuk dan hakim Marzuki meninggaikan ruang sidang, nenek itupun
pergi dengan mengantongi uang 3,5jt rupiah...
Termasuk uang 50rb yg dibayarkan oleh manajer PT X *** yang tersipu malu karena
telah menuntutnya.
Sungguh sayang kisahnya luput dari pers.
Kisah ini sungguh menarik sekiranya ada teman yang bisa mendapatkan dokumentasi
kisah ini bisa di share di media untuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum
lain agar bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yang
berhati mulia.
Dari informasi dari korlantas polri, yang saya dapat Kecelakaan beruntun terjadi di Jl Raya Sumedang-Cirebon
tepat di depan RM Joglo Cimalaka pada Kamis (24/1) sekitar pukul 17.50 WIB.
Kecelakaan melibatkan 15 kendaraan, diantaranya 11 mobil, 3 motor, 1 truk
bermuatan batu bara.
Menurut Informasi yang diterima dari Kasatlantas Polres
Sumedang, AKP Adanan Mangopang. Saat itu truk tronton bermuatan Batu Bara
dengan nopol B 9395 WV yang melaju dari arah Cirebon ke Bandung itu tiba-tiba
mengalami rem blong hingga kehilangan kendali dan menabrak kendaraan di
depannya termasuk kendaraan yang datang arah berlawanan.
Sebelum berhenti truk juga menabrak dinding tanah hingga
oleng. Sampai berita ini diturunkan sopir truk dalam pencarian petugas
kepolisian karena melarikan diri ke arah hutan, menghindari amuk masa.
Informasi saat ini tidak ada korban jiwa, hanya kerusakan
kendaraan saja namun lalu lintas mengalami kemacetan panjang. Korban
luka kini dibawa ke RS terdekat.
Faktor yang mempengaruhi Ginogenesis diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Kejut Suhu
Keberhasilan ginogenesis melalui perlakuan kejutan suhu sangat dipengaruhi oleh suhu kejutan, waktu kejutan dan lama kejutan.
2. Kondisi Lingkungan
Gagalnya proses pembuahan pada telur juga terjadi akibat kondisi dari lingkungan tempat penetasan itu sendiri yakni tingkat aerasi yang kurang serta dibiarkannya telur-telur tersebut bergerombol di satu titik pada permukaan lempeng kaca. Seperti yang kita tahu bahwa sifat dari telur ikan adalah mudah menempel antar sesama telur, sehingga proses pembuahan akan terhambat bahkan mati akibat kurangnya pasokan oksigen pada masing-masing telur tersebut (Woynarovich and Horvath, 1980). Selain itu suhu lingkungan juga mempengaruhi tingkat keberhasilan penetasan telur, suhu yang diperlukan bagi penetasan telur adalah suhu hangat (Effendie,1997) .
3. Penuruhan suhu secara drastis
Gagalnya proses ginogenesis terjadi pada saat telur siap menetas dan tiba-tiba kondisi suhu di dalam Hatcheri mengalami penurunan yang drastic sehingga telur yang telah siap menetas langsung terkena jamur yang langsung menyebar pada penebaran telur yang terlalu padat sehingga telur-telur yang mati sangat mudah karena berdempetnya masing masing telur pada substrat.
Untuk mendapatkan benih ikan yang monosex secara ginogenesis ada beberapa perlakuan yang dapat dilakukan yakni antara lain:
1. Penyinaran sperma dengan sinar ultraviolet
Sebelum sperma dicampur dengan sel telur (pemijahan buatan) sperma tersebut diberi perlakuan penyinaran dengan sinar UV. Hal ini dilakukan untuk merusak bahan genetik sperma. Komposisi kimiawi sperma pada plasma inti (nukleoplasma) diantaranya adalah DNA, Protamine, Non Basik Protein. Sedangkan seminal plasma mengandung protein, potassium, sodium, calsium, magnesium, posfat, klarida. Sedangkan komposisi kimia ekor sperma adalah protein, lecithin dan cholesterol (Gusrina, 2008).
Sinar ultraviolet dengan panjang gelombang di bawah 300 nm dapat diserap secara kuat oleh bahan biologi tertentu, terutama asam nukleat, protein, dan koenzim. Tetapi sinar ini tidak sampai mengionisasi atom-atom dan molekulnya disamping itu kemampuan sinar ultraviolet untuk menembus bahan sangat terbatas. Walaupun sinar ultraviolet yang dapat masuk ke bahan biologi tersebut sedikit, tetapi hampir semua diserap. Hal ini berarti efisiensi penyerapan sinar ultraviolet olleh bahan-bahan biologi sangat tinggi. Pada panjang gelombang hingga 260 nm sinar UV dapat merusak fungsi pirimidin AND yang merupakan bahan genetic sperma. Walapun sperma diradiasi namun tidak sampai merusak kemampuannya untuk bergerak dan membuahi telur. Dengan demikian sperma ini masih mampu untuk memicu untuk terjadinya pembuahan dan perkembangan telur.
2. Perlakuan kejut suhu
Setelah sperma diberi perlakuan penyinaran kemudian dicampur dengan sel telur dan dilepaskan dalam air agar terjadi pembuahan. Setelah pembuahan terjadi kemudian telur yangterbuahi tersebut diberi kejutan lingkungan. Hal ini dapat berupa kejut suhu atau dengan tekanan hidrostatis. Perlakuan dengan tekanan hidrostatis memerlukan peralatan yang rumit, mahal sehingga suli untuk diterapkan telur dalam jumlah banyak namun metode ini efektif untuk memproduksi tingkat heterozigositas nol persen. Kejut suhu lebih praktis dalam penggunaannya sehingga bisa diterapkan pada jumlah yang banyak. Kejut suhu dimaksudkan untuk pencegahan keluarnya polar body II telur pada saat terjadi pembelahan miosis kedua atau pencegahan pembelahan sel setelah duplikasi kromosom pada saat terjadi pembelahan mitosis pertama sehingga jumlah kromosom telur mengganda lagi pada awal perkembangan zigot (Nagy et al:, 1978). Kejut suhu disini berupa kejutan panas dan kejutan dingin. Pemberian kejutan panas lebih singkat periodenya dibandingkan dengan kejut dingin.
Pada saat oogenesis (proses pembentukan sel telur hingga siap untuk ovulasi), sel telur belumlah dalam keadaan 2N melainkan 4N. Saat pembelahan sel miosis I terjadi,saat itu dikatakan sel telur telah matang. Saat itulah ada "loncatan" polar body I (2N), sehingga sel telur yang awalnya 4N menjadi 2N. Pembelahan sel secara miosis, ada pengurangan set kromosom menjadi setengah dari semula. Perbedaannya dengan pembelahan sel mitosis (pembelahan yang ditandai dengan penggandaan atau perbanyakan jumlah sel).
Satu buah sel telur yang memiliki dua set kromosom (2N) dan satu buah sel sperma memiliki satu set kromosom (1N). Jika keduanya kita pasangkan, maka terjadilah pembuahan. Setelah sel telur dibuahi oleh sperma, maka satu set kromosom sperma memasangkan diri terhadap satu set kromosom pada sel telur. Dan sebagai akibatnya, ada satu set kromosom sel telur yang tidak mendapatkan pasangan. Itulah yang kemudian dipahami oleh beberapa peneliti, bahwa polar body II yang berisi satu set kromosom (1N) akan "ke luar" dari sistem. Satu set yang tidak memiliki pasangan kromosom itu akan ter denaturasi. Dengan terjadinya, maka sel telur yang sudah dibuahi tersebut, kembali pada kondisi normal (2N) dan menyiapkan diri untuk melakukan proses berikutnya; yakni pembelahan sel mitosis.
Jika proses keluarnya polar body II kita ganggu dengan kejut suhu di atas hingga mengalami kegagalan, maka tentu saja sel telur yang sudah dibuahi itu akan tetap memiliki tiga set kromosom; dua set dari sel telur dan satu set dari sel sperma. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai triploid atau individu yang memiliki tiga set kromosom (3N). Karena materi genetic sperma telah rusak maka yang akan berkembang dan mengalami pembelahan hanya pada set kromosom telur dari induk betina. Oleh karena itu ginogenesis hanya akan menghasilkan anakan yang sama dengan sifat induknya jika metode ini berhasil.
Ginogenesis dapat digunakan untuk pemurnian ikan menggantikan teknik perkawinan sekerabat. Menurut Rohadi, D. S, (1996) dengan ginogenesis buatan dapat menghasilkan ikan bergalur murni dengan sifat homozigositas. Hasil pemurnian ikan dengan metode ginogenesis selama satu generasi sama dengan hasil tujuh sampai delapan generasi perkawinan sekerabat sedangkan homozogositassatu generasi ikan ginogenesis sama dengan homozigositas tiga generasi ikan hasil perkawinan sekerabat. Keberhasilan dari metode ini ditentukan oleh umur zigot, lama waktu kejutan dan suhu kejutan panas yang digunakan. Lamanya kejutan suhu, pemilihan waktu yang tepat serta suhu perlakuan yang tepat adalah spesifik atau khas untuk masing-masing jenis ikan.
Halo sobat GPS, uda lama ga share ilmu... :D Nahh kali ini kita bahas sedikit tentang Ginogenesis nih sob, bagi kalian yang hobi di masala bididaya ikan, mungkin ini bisa bermanfaat. :) langsung ke TKP .... Ginogenesis
adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi dari gamet
jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi untuk merangsang
perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturunkan. Ginogenesis
dapat terjadi secara alami dan buatan. Nagy et al,. 1978, menyebutkan
ginogenesis adalah terbentuknya zigot 2n (diploid) tanpa peranan genetik gamet
jantan. Jadi gamet jantan hanya berfungsi secara fisik saja, sehingga prosesnya
hanya merupakan perkembangan pathenogenetis betina (telur). Untuk itu sperma
diradiasi. Radiasi pada ginogenesis bertujuan untuk merusak kromososm
spermatozoa, supaya pada saat pembuahan tidak berfungsi secara genetic
(Sumantadinata, 1981).
Ginogenesis
secara alami jarang terjadi pada pembuahan, karena nukleus sperma yang masuk ke
dalam telur yang dalam keadaan tidak aktif jarang didapatkan, pada beberapa
populasi ikan karper krusia (Carrasius auratus gibelio) dan beberapa
spesies dari family Poecilidae di Meksiko terjadi ginogenesis secara alami.
Sedangkan
ginogenesis buatan dilakukan melalui beberapa perlakuan pada tahapan pembuahan
dan awal perkembangan embrio. Perlakuan ini bertujuan 1). membuat supaya
bahan genetik jantan menjadi tidak aktif 2). mengupayakan terjadinya
diploisasi agar telur dapat menjadi zigot. Bahan genetik dalam spermatozoa
dibuat tidak aktif dengan radiasi sinar gama, sinar X dan sinar ultraviolet
(Purdom, 1993).
Sebelum melakukan praktikum hal yang paling utama yang harus dipahami oleh praktikan adalah mengetahui terlebih dahulu nama-nama alat, fungsi, dan cara penggunaan alat-alat yang akan kita gunakan, agar praktikum yang akan dilakukan berjalan dengan baik (Setiawati, 2002). Dalam melaksanakan praktikum, seperti biasa para praktikan akan melakukan perhitungan dan pengukuran. Dalam hal ini, maka penggunaan dan ketelitian praktikan dalam menggunakan alat adalah hal yang penting, dimana hal tersebut dapat menentukan hasil akhir dari praktikum. Untuk dapat meningkatkan ketelitian praktikan adalah dengan memperhatikan dan memahami alat yang akan digunakan. Salah satu contohnya adalah alat-alat yang memiliki skala, dimana skala-skala yang dimiliki masing-masing alat tentunya akan berbeda, dan tentu saja juga memiliki tingkat ketelitian yang berbeda pula. Semakin kecil skala alat tersebut maka akan semakin besar tingkat ketelitiaannya. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara kita membaca skala itu sendiri. (Koesmadji. 2008)
Dengan demikian pengenalan alat sangatlah penting dan utama disampaikan pada awal praktikum, selanjutnya praktikan harus tahu terlebih dahulu nama, fungsi dan prosedur penggunaan atau prinsip kerja dari alat-alat yang ada dilaboratorium agar diharapkan para praktikan dapat menggunakan alat sesuai dengan fungsinya dan sesuai dengan petunjuk agar memperoleh hasil praktikum yang baik, cepat dan efisien. Pekerjaan dalam laboratorium sering menggunakan alat-alat, contoh alat-alat tersebut antara lain: gelas beker, gelas ukur, pipet tetes, pipet mikro, pipet makro, tabung reaksi, labu ukur, oven, erlenmeyer, ball pipet, dan lain-lain. Kesalahan dalam penggunaan alat dapat mempengaruhi hasil dari praktikum. Sering kali di dalam laboratorium terjadi kesalahan dalam melakukan percobaan di karenakan para praktikan tidak mengetahui cara dan fungsi dari alat-alat laboratorium. Apabila terjadi kesalahan dalam menggunakan alat-alat tersebut, maka akan mengakibatkan halyang fatal. Selain terganggunya praktikum, harga dari alat-alat tersebut juga relatif mahal. Oleh karena itu para praktikan dituntut agar serius dalam praktik agar tidak terjadi kerusakan alat. (Achmad, 2008). Pemahaman fungsi dan cara kerja peralatan serta bahan harus mutlak dikuasai oleh praktikan sebelum melakukan praktikum dilaboratorium kimia. Bukan hal yang mustahil apabila terjadi kecelakaan dalam laboratorium karena kesalahan dalam pemakaian atau penggunaan alat-alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan suatu praktikum yang berhubungan dengan bahan kimia yang berbahaya. Disamping itu, pemilihan jenis alat yang akan digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan tujuan penelitian. Agar penelitian berjalan lancar.(Khasani, 2009) Download artikel ini disini
Isinya tentang upwelling di laut selatan cina, hasil terjemahan jurnal yang dilanjutkan dengan pembahasan pembuktian dengan menggunakan ODV atau Osean Data View. Apa itu ODV ada penjelasannya di posting sebelumnya.., Cek.. Lihat.. Baca.. Semoga bermanfaat untuk sobat GPS.. Download Artikel
Persepsi mengenai Manager dan Pemimpin sering kali di artikan sama, bahwa manager adalah pemimpin. Persepsi itu memang tidak salah hanya saja kurang tepat. Dari kuliah mengenai Dasar-dasar Manajemen GPS mendapat informasi tentang perbedaan dari Manajer dan Pemimpin. Berikut perbedaannya :
Karakteristik Manajer dan Pemimpin
Fred Luthan
(1998 : 269)
Manager
Characteristics
Administer
A Copy
Maintain
Focused on System and structure
Relies on Control
Short range view
Ask how and when eye on bottom
line
Imitates
Accepts the status quo
Classic good soldier
Does Thing Right
Leader
Characteristic
Innovates
An Original
Develops
Focused on people
Inspires Trust
Long Run Perspecties
Ask What and why Eye on the
horizon
Origirates
Challenges the ststus Quo
Own person
Does the right they
Untuk penjelasannya langsung aja di translate. sekarang kita langsung ke pembahasan mengenai Kepemimpinan.
Kepemimpinan
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan menurut A
Robert Baron (2003 : 471), adalah
“Leadership is the process whereby one individual influences other group
members toward the attainment of defined group or organizational goals.”
Jadi kepemimpinanadalahprosesdimanaseorangindividumempengaruhianggotakelompok lain mengenai pencapaiantujuan yang telahditetapkankelompokatauorganisasi.
Teori-teori tentang Kepemimpinan
1. Teori Kepemimpinan Orang Hebat (The Great Person Theory)
Teorioranghebat(The Great Person Theory) menurut A. Robert Baron
(2003 : 473) adalah”The View that leader prosess
special traits that set them apart from other and that these traits are
responsible for their assuming positions of power and authority.”Teorioranghebatadalahsuatupandangandimanapemimpinmemilikisifatkhusus/istimewa yang membedakannyadari yang lain dandimanasifat-sifatinilah yang akanmembawanyauntukmendudukiposisidankekuasaan
Karakteristik Pemimpin Hebat
A Robert Baron (2003 : 472)
SifatatauKarakteristik
Penjelasan
Dorongan
Hasratataukeinginanuntukmencapaisesuatu, ambisi, energi yang tinggi, kegigihandaninisiatif
Kejujuran
dan Integritas
Dapat dipercaya,
dapat diandalkan dan terbuka
Motivasi
Kepemimpinan
Keinginan atau
hasrat untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan.
Kepercayaan
Diri
Percayaakankemampuansendiri
Kemampuan
Kognitif
Kepandaian,
kemampuan mengintegrasikan dan menginterpretasikan sejumlah besar informasi
Pengetahuan
akan Bisnis
Pengetahuan
tentang industri dan masalah teknis yang relevan
Kreativitas
Kemampuan untuk
ide-ide orisinil
Fleksibilitas
Kemampuan
beradaptasi dengan kebutuhan pengikut dan situasinya
Menurut Fred Luthan (1998 : 273), terdapat 4
teori tentang kepemimpinan yaitu :
1. Trait
Theories of Leadership
2. Group
and exchange theories of leadership
3. Contingency
theory of leadership
4. Pats-Goal
leadership Theory
Penjelasan:
1.Trait Theories of Leadership
Teoriinidiawalidaripendapatbahwakepemimpinanmerupakansuatu yang dibawasejaklahir, dankepemimpinantidakdapatdiciptakan.
2. Group and exchange theories of leadership
Teori kepemimpinan kelompok mendasarkan pada pendekatan psikologi sosial. Selain itu teori pertukaran klasik (Classic Exchange theory) merupakan pendekatan yang penting untuk teori ini. Dalam hal ini terdapat pertukaran positif antara leader dan follower. Pendapat Chester Barnad yang dikutip Fred Luthan (1998 : 275) menyatakan bahwa :”Exchange theories propose that group member make contribution at cost to themselves and receive benefit at a cost to the group or other member. Interaction continues because member find the social exchange mutually rewarding.”
a. Follower’s Impact on leader. Beberapa penelitian penting menunjukkan bahwa follower/suberordinate dapat mempengaruhi leader.
b. The Vertical Dyad Linkage Model
Model vertical Dyad linkage model disebut juga Leader Member Exchange (LMX). Teori ini menyatakan bahwa pemimpin memperlakukan bawahan secara berbeda. Pimpinan dan bawahan mengembangkan hubungan 2 belah pihak yang mempengaruhi perilaku masing-masing. Selain itu pimpinan akan berkembang dalam sebuah kelompok subordinat Pemimpin dalam sebuah group lebih sulit memperoleh kesepakatan dan membawa pemimpin menjadi pihak yang lebih bertanggung jawab terhadap keperluan anggota.
3. Contingency theory of leadership
Fiedler Contingency Model Of Leadership EfektivenessModel ini membahas`mengenai hubungan antara gaya kepemimpinan dan situasi yang terjadi. Situasi-situasi yang digambarkan oleh Fiedler meliputi tiga dimensi yaitu :
Hubungan pimpinan anggota merupakan variabel pertama yang sangat penting dalam menentukan situasi.
Tingkat struktur tugas merupakan faktor kedua dalam menentukan situasi.
Posisi kekuatan pemimpin
Situasi akan menguntungkan bagi pimpinan apabila pengaruh ketiga dimensi tersebut tinggi. Dalam hal ini kondisi menguntungkan apabila :
Pimpinan dapat diterima oleh follower
Tugas terstruktur dan jelas
Kesepakatan dan kekuatan pihak otoritas secara formal dimiliki oleh leader.
4. Pats-Goal leadership Theory
Dalam hal ini terdapat 4 gaya kepemimpinan berdasarkan versi House of the theory incorporates yang dikutip Fred Luthan (1998 : 280), yaitu :
Directive Leadership : Gaya ini sama dengan teori otoritas kepemimpinan Lippitt and white. Bawahan mengetahui dengan tepat segala sesuatu yang diharapkan pimpinan, dan pimpinan memberikan petunjuk-petunjuk khusus. Pada gaya kepemimpinan seperti ini bawahan tidak memiliki partisipasi.
Supportive Leadership. Pimpinan ramah, dekat dengan bawahan dan memberikan banyak perhatian pada bawahan.
Participative Leadership : Pimpinan menanyakan dan meminta saran dari bawahan, namun pengambilan keputusan adalah wewenang pimpinan.
Achievement – Oriented Leadership : pimpinan menyusun tujuan untuk bawahan dan memperlihatkan keprcayaan diri bahwa mereka dapat mencapai tujuan tersebut dan berkinerja baik.
Teorikepemimpinan lain yaitukepemimpinan Charismatic, Transformatial social learning, teorisubstitusi.
1. Charismatic Leadership Theories
Kepemimpinan kharismatik ini telah berjalan sejak jaman Yunani kuno. Analisis charismatic leadership ini selanjutnya dijelaskan oleh Robert House dalam Fred Luthan (1998 : 283) bahwa ciri-ciri dari kepemimpinan karismatik adalah :
Memiliki kepercayaan diri dan kepercayaan terhadap pengikut
Merupakan harapan tinggi bagi pengikut
Memiliki visi ideologis
Pengikut memiliki kesamaan visi dan misi dengan pimpinan
Pengikut memiliki loyalitas yang ekstrim dan percaya pada pimpinan
Pengikut berlomba-lomba mengikuti sistem nilai dan perilaku pemimpin
Berhubungan dengan pemimpin merupakan penghargaan diri
Pemimpin karismatik memiliki kemampuan debat dan persuatif yang hebat, sikap, perilaku yang mampu mempengaruhi pengikutnya.
2. Transformational
Leadership Theory
Transactional leadership merupakan kepemimpin yang menggeser/memindahkan hal-hal yang buruk kearah kinerja organisasi yang superior, melalui pembaharuan dan perbaikan. Proses transformasi ini dapat dilakukan melalui proses rekrutment, seleksi, promosi, pelatihan, dan pengembangan, jaminan kesehatan, dan efektivitas kinerja organisasi. Berdasarkan penelitian Bass, pemimpin transformasional yang efektif memiliki karakteristik :
Pemimpin mengidentifikasi diri seabagai agen perubahan.
Pemimpin adalah orang yang dapat memberi semangat.
Pemimpin adalah orang yang percaya terhadap orang lain
Pemimpin adalah penggerak sistem nilai
Pemimpin adalah pembelajar sepanjang hayat
Memiliki kemampuan menyesuaikan dengan kompleksitas, ambiguitas, dan ketidak pastian
Memiliki visi
3. Transactional Leadership Theory
Kepemimpinan transaksional
melibatkan pertukaran hubungan antara pimpinan dan pengikut.
4. Sosial Learner
Approach (PendekatanPembelajaranSosial)
Teorikepemimpinandenganpendekatanpembelajaran social inimemberikan model berkelanjutandaninteraksiresiprokalantarapemimpin (termasukkemampuankognitifnya), lingkungan (termasukbawahan/ pengikutdengan variable makrolainnya) danperilakunya.
Untuk Download Artikel dalam bentuk Ms. Word Klik disini
Wujud kebudayaan dibagi
menjadi tiga kategori, diantaranya:
1.Berwujud gagasan (Wujud Ideal)
2.Berwujud Artefak (Karya)
3.Berwujud Aktivitas
Penjelasan:
1.Gagasan, yaitu kebudayaan yang berbentuk
kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya,
yang bersifat abstrak. Hubungannya
dengan wujud berikutnya yaitu, jika gagasan itu dituangkan dalam suatu karya
tulisan ataupun benda-benda, maka wujug gagasan ini akan menjadi wujud
kebudayaan Artefak.
2.Artefak, yaitu wujud kebudayaan fisik
yang berasal dari hasil aktifitas,
perbuatan, dan karya manusia dalam masyarakat berupa benda atau hal-hal lain
yang bersifat fisik, dapat deiraba ataupun dilihat.
3.Aktivitas, adalah suatu kebudayaan yang
berwujud tindakan berpola dari manusia dalam suatu masyarakat, dimana wujud
kebudayaan ini juga sering disebut sistem sosial. Sistem sosial in terdiri dari
aktivitas
Navigasi adalah ilmu pengetahuan dalam menentukan posisi kapal di
laut dengan mengemudikan (steering) kapal secara aman dari suatu tempat ke
tempat lain.
Fungsi Navigasi
Fungsi Secara Umum:
1.Ditujukan
untuk mencari posisi dan menentukan arah (darat-laut-udara)
2.Merupakan
hal yang sangat penting dalam transportasi
3.Diperlukan
untuk keselamatan dan efisisiensi waktu perjalanan.
Fungsi Bagi Perikanan
1.Ditijukan
untuk efisiensi penangkapan ikan dan keselamatan pelayaran
2.Menentukan
posisi penangkapan ikan
3.Umumnya
digunakan pada wahana laut
Perbedaan Navigasi Nalayan
Tradisional dan Nelayan Modern
1.Nelayan
Tradisional
Pengetahuan
navigasi didapat dari pengalaman dalam melakukan penangkapan dan dalam
menentukan posisi kapal dengan menggunaakan benda-benda langit seperti
matahari, bulan dan bintang.
2.Nelayan
Modern
Penangkapan ikan
telah dibantu dengangan alat-alat navigasi yang modern berbasis elektronik dan
satelit. Contoh alat navigasi:
Acropora
adalah genus karang scleractinian di Cnidaria Filum. Beberapa spesies yang
dikenal sebagai meja karang, karang dan bercabang Elkhorn karang. Saat ini ada
149 spesies dijelaskan . Acropora salah satu bangunan utama terumbu karang,
bertanggung jawab untuk membangun kalsium karbonat substruktur besar mendukung
kulit hidup tipis karang.
Tergantung
pada spesies dan lokasi, dapat tumbuh sebagai Acropora piring atau langsing
atau cabang yang luas. Seperti karang lainnya, karang Acropora koloni individu
yang dikenal sebagai polip, yang sekitar 2 mm dan jaringan berbagi dan jaring
saraf. Polip dapat menarik kembali ke karang sebagai respon terhadap gerakan
atau gangguan oleh predator mungkin, tapi ketika mereka terganggu sedikit
menonjol. Polip biasanya memperpanjang lebih lanjut di malam hari untuk
membantu menangkap plankton dan bahan organik terlarut dari air. Acropora
paling umum di lingkungan terumbu dangkal dengan cahaya terang dan moderat
dengan gerakan air yang tinggi. Banyak ikan karang kecil yang tinggal di dekat
koloni Acropora dan mundur ke semak cabang jika terancam.
Karang ini
memiliki zooxanthellae, simbiosis alga yang hidup dalam sel karang dan
menghasilkan energi untuk hewan melalui fotosintesis. Perusakan lingkungan
telah menyebabkan berkurangnya populasi Acropora, bersama dengan jenis karang
lainnya. Acropora terutama rentan terhadap pemutihan ketika stres. Pemutihan
ini disebabkan hilangnya zooxanthellae karang, yang merupakan warna cokelat
keemasan. Karang dikelantang putih mencolok dan bisa mati jika zooxanthellae
baru tidak dapat berasimilasi. Penyebab umum pemutihan dan kematian karang
termasuk polusi, suhu air normal hangat, pengasaman laut meningkat,
sedimentasi, dan eutrofikasi.
Acropora
Kebanyakan coklat atau hijau tetapi beberapa berwarna cerah dan mereka karang
langka dihargai oleh aquarists. Propagasi Captive Acropora tersebar luas dalam
komunitas karang-menjaga. Mengingat kondisi yang tepat, banyak Acropora spesies
tumbuh dengan cepat dan koloni individu dapat melebihi 1 meter di seberang di
alam liar. Dalam akuarium terumbu terawat dengan baik, jari-ukuran fragmen
dapat tumbuh menjadi basket berukuran koloni dalam 1 sampai 2 tahun. Spesimen
penangkaran yang terus mengalami perubahan akibat seleksi yang memungkinkan
mereka untuk berkembang di akuarium rumah. Dalam beberapa kasus, fragmen spesimen
penangkaran digunakan untuk terisi kembali terumbu tandus di alam liar. Spesies
Acropora menantang untuk simpan di akuarium rumah. Mereka membutuhkan cahaya
terang, suhu stabil, dan air bergolak. Menyediakan elemen-elemen ini dapat
terlalu mahal untuk hobi rata-rata.
English et al., (1994)
menggolongkan bentuk pertumbuhan Acropora sebagai berikut:
Klasifikasi
Acropora cervicornis
Family :
Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora cervicornis
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni dapat terhampar sampai beberapa meter, Koloni arborescens, tersusun
dari cabang-cabang yang silindris. Koralit berbentuk pipa. Aksial koralit dapat
dibedakan.
Warna : Coklat muda.
Kemiripan : A. prolifera, A. formosa.
Distribusi : Perairan Indonesia, Jamaika, dan Kep. Cayman..
Habitat : Lereng karang bagian tengah dan atas, juga perairan lagun yang
jernih.
Acropora elegantula
Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora elegantula
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni korimbosa seperti semak. Cabang horisontal tipis dan
menyebar. Aksial koralitnya jelas.
Warna : Abu-abu dengan warna ujungnya muda.
Kemiripan : A. aculeus, dan A. elseyi.
Distribusi : Perairan Indonesia, Srilanka.
Habitat : Fringing reefs yang dangkal
Acropora acuminata
Family
: Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora acuminata
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni bercabang. Ujung cabangnya lancip. Koralit mempunyai 2
ukuran.
Warna : Biru muda atau coklat.
Kemiripan : A. hoeksemai, A abrotanoides.
Distribusi : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea dan
Philipina.
Habitat : Pada bagian atas atau bawah lereng karang yang jernih atau pun keruh.
Beberapa contoh Acropora
yang lain:
1. Acropora branching (ACB),
bentuk bercabang seperti ranting pohon.
4. Acropora submassive (ACS),
percabangan bentuk gada/lempeng kokoh, contoh genus Isopora.
Contoh : Acropora palifera
5. Acropora digitate (ACD),
bentuk percabangan rapat dengan cabang seperti jari-jari tangan.
Contoh : Acropora gemmifera, Acropora
humilis.
Anatomi Karang
Karang atau disebut polip memiliki
bagian-bagian tubuh terdiri dari :
1.Mulutdikelilingi oleh
tentakelyang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan serta
sebagai alat pertahanan diri.
2. Rongga tubuh (coelenteron) yang juga
merupakan saluran pencernaan
(gastrovascular).
3.Dua lapisan tubuh yaitu ektodermisdan endodermis yang lebih umum disebut gastrodermiskarena
berbatasan dengan saluran pencernaan. Di antara kedua lapisan terdapat jaringanpengikat
tipis yang disebut mesoglea. Jaringan ini terdiri dari sel-sel, serta kolagen,
danmukopolisakarida. Pada sebagian besar karang, epidermis akan
menghasilkan material gunamembentuk rangka luar karang. Material tersebut
berupa kalsium karbonat (kapur).Bertempat di gastrodermis, hidup
zooxanthellaeyaitu alga uniseluler dari kelompokDinoflagelata,
dengan warna coklat atau coklat kekuning-kuningan.
Reproduksi dan Pertumbuhan Karang
Reproduksi
Reproduksi Aseksual
Dalam
membahas reproduksi aseksual, perlu dipisahkan antara pertumbuhan
koloni dengan pembentukan koloni
baru
Pertunasan
Terdiri dari:
Intratentakular yaitu satu polip membelah menjadi 2 polip; jadi polip baru tumbuh dari
polip lama
Ekstratentakular yaitu polip baru tumbuh di antara polip-polip lain
Jika polip
dan jaringan baru tetap melekat pada koloni induk, ini disebut pertambahan
ukuran koloni. Jika polip atau tunas lepas dari koloni induk dan membentuk
koloni baru, ini baru disebut reproduksi aseksual.
Reproduksi Seksual
Karang memiliki mekanisme reproduksi seksual yang beragam yang didasari
oleh penghasilgamet dan fertilisasi. Keragaman itu meliputi:
A.
Berdasar individu penghasil gamet, karang dapat dikategorikan bersifat:
1. Gonokoris
Dalam satu jenis (spesies), telur
dan sperma dihasilkan oleh individu yang berbeda. Jadi ada karang jantan dan
karang betina. Contoh: dijumpai pada genus Porites dan Galaxea
2. Hermafrodit
Bila
telur dan sperma dihasilkan dalam satu polip. Karang yang hermafrodit juga
kerap
Pertumbuhan
Penempelan (recruitment/settlement)
Larva planula akan dapat melanjutkan ke tahap penempelan pada dasar
perairan bila kondisi. Substrat mendukung seperti: